Langsung ke konten utama

Refleksi ke-4 Daya Matematika bersama Prof.Dr.Marsigit, M.A: Apa itu matematika: model kenyataan atau kenyataan itu sendiri?


Apa itu matematika: model kenyataan atau kenyataan itu sendiri?

        Ada fakta menarik tentang Planet Neptunus: ia ditemukan menggunakan matematika. Penemuan Neptunus ini dianggap bukti bahwa matematika bukan karangan semata, tapi sesuatu yang nyata. Ada fakta menarik tentang Planet Neptunus: ia ditemukan menggunakan matematika. Penemuan Neptunus ini dianggap bukti bahwa matematika bukan karangan semata, tapi sesuatu yang nyata.
Beberapa temuan ilmiah terpenting bersumber dari angka, dan angka juga membuat cara pandang kita terhadap alam semesta jadi berbeda. Apakah kenyataan sesungguhnya juga merupakan kumpulan angka-angka?
        Adanya uang - tepatnya utang - membuat kita lebih mudah membayangkan angka negatif. Utang dan angka negatif Ketika kue tadi habis dimakan, tidak ada kue yang minus. Namun menurut Alex Bellos hitungan negatif berlaku sangat alamiah dalam soal uang. "Kita bisa punya uang, tapi juga bisa punya utang," katanya. "Salah satu penggunaan angka negatif adalah ketika menghitung neraca keuangan dan utang". "Kalau kamu punya utang US$5 dan saya memberi kamu uang US$5, maka sesungguhnya kamu punya $0." Ini adalah kenyataan yang dibuat oleh angka negatif, sesuatu yang"tak nyata" ketika ukurannya kue seperti di atas. Kini angka negatif bukan hanya terkait soal utang. Sulit membayangkan matematika tanpa angka negatif.
        Sampai sejauh ini, kita masih bisa mengaitkan matematika dengan kenyataan. Namun mari kita bermain dengan angka negatif. Misteri besar Kalau kita mengkalikan angka negatif, hasilnya adalah angka positif. Maka -1 x -1=1, dan ini merupakan hal yang sangat misterius. "Jika kita bermain dengan persamaan yang punya angka negatif dan positif, lihat apa yang kita dapatkan: Image caption Persamaan matematika ini mewakili misteri besar. "Apa ini sesungguhnya? Bagaimana kita bisa menemukan sesuatu yang ketika dikuadratkan, nilainya sama dengan -1!" kata Bellos. "Hasil persamaan ini tak bisa angka positif, karena ketika kita kuadratkan - atau dikalikan dengan angka yang sama - hasilnya positif. Namun tidak bisa juga angka negatif, dengan alasan yang sama" "Bagi para ahli matematika ini absurd." Di sinilah matematika mulai berpisah dengan kenyataan, sekalipun matematika masih sangat bermanfaat untuk menjelaskannya. Imajiner "Akar dari minus satu disebut sebagai 'angka imajiner', dan ini nama yang buruk karena memberi kesan matematika itu tidak nyata, dan tiba-tiba menjadi sesuatu yang imajiner," kata Bellos.
        "Namun jangan lupa, matematika sesungguhnya imajiner sejak semula. Kita bisa bilang kita lihat tiga kue, tapi sebenarnya yang kita lihat adalah beberapa kue, karena 'tiga' itu sebetulnya adalah abstraksi," kata Bellos. Hak atas foto Image caption Ada kata"tiga" dan simbol"3", tapi angka sebetulnya merupakan sesuatu yang abstrak. "Sama saja dengan 'angka imajiner'. Kesannya tak masuk akal, tapi ketika kita lihat bahwa angka itu cocok dengan hitung-hitungan, semuanya logis." "Sekarang ini, akar dari -1, sama nyatanya dengan -1 itu sendiri," kata Bellos. Bahkan ketika hal itu sulit dimengerti. Sama halnya ketika nenek moyang kita bingung dengan konsep angka -1. Jangan khawatir Jika Anda bingung jangan khawatir. Teruskan membaca dan semoga akan terjelaskan. Angka yang kompleks memungkinan pemecahan pesamaan tertentu yang tak ada pemecahannya pada angka-angka nyata. Angka seperti itu sangat praktis untuk memahami kenyataan dan berguna untuk memahami soal seperti putaran atau gelombang. Angka-angka ini digunakan pada kelistrikan, radar, pencitraan medis, serta untuk memahami perilaku partikel sub atomik. Namun bagaimana sesuatu yang hanya ada dalam imajinasi matematika bisa begitu berguna di dunia nyata? Bagi Eugene Winger, ahli fisika Hungaria, ini hampir mirip dengan keajaiban. Wigner mengacu pada angka-angka kompleks pada esei terkenal tahun 1960 berjudul" The unreasonable effectiveness of mathematics in the physical sciences ". Getty Images Image caption Matematika merupakan alat yang dirancang untuk menjelaskan kenyataan.
        Kenapa kita masih kaget ketika ternyata matematika memang mampu melakukannya? Efektivitas yang tak masuk akal, kenapa tak masuk akan, jika matematika memang dirancang manusia untuk menggambarkan realitas? "Benar bahwa manusia menciptakan matematika untuk memahami fisika. Namun matematika tak selalu berkembang seperti itu," kata Eleanor Knox yang mendalami filsafat fisika. "Banyak kejadian di mana ahli matematika mengerjakan sesuatu lantaran mereka tertarik saja, dan ternyata belakangan terbukti dibutuhkan dalam penemuan penting dalam fisika". Contohnya adalah geometri non-Euclidean, kata Knox - mengacu pada cabang geometri yang dikerjakan para ahli matematika di akhir abad kesembilanbelas. "Dahulu orang berpikir bahwa dunia ini bisa dijelaskan dengan geometri Euclidian. Ini geometri yang kita pelajari disekolah seperti misalnya sudut pada satu segitiga jika dijumlahkan adalah 180 derajat." Para ahli matematika tahun 1800-an ketika itu menjelajahi kemungkinan lain dan menemukan struktur matematika yang menarik perhatian mereka. Hak atas foto Getty Images Image caption Geometri Non-Euclidian membuat kita bisa melihat bentuk-bentuk yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran para ahli matematika, misalnya obyek yang memiliki empat, lima atau enam dimensi.
        "Di abad keduapuluh, ketika Albert Einstein perlu menjelaskan teori untuk menggambarkan hukum ruang dan waktu untuk teori relativitas umum, ia dibantu oleh geometri non-Euclidean geometry. Tanpa itu, ia tak akan berhasil," kata Knox. Kasus seperti ini membuat kita berpikir bahwa hubungan antara matematika dan kenyataan itu ajaib, atau setidaknya sangat menakjubkan. Matematika dan kenyataan fundamental Dengan kemajuan fisika sekarang, sulit bagi kita yang fana ini mengerti matematika yang kompleks dan kenyataan aneh yang digambarkannya. Persepsi indra kita akan kenyataan memang terbatas, tetapi matematika memungkinkan untuk mengeksplorasi hal-hal di luar itu. Apakah dalam upaya memahami kenyataan fundamental, matematika akan mencapai batasnya? "Abad keduapuluh memberi kita dua kisah sukses fisika: mekanika kuantum (dunia pada skala yang sangat kecil seperti atom dan partikel sub atom) dan teori relativitas umum," kata Knox. Hak atas foto Image caption Matematika memungkinkan kita menjelajah lebih jauh ketimbang yang dimungkinkan oleh panca indra kita. "Kita tak punya kerangka yang koheren untuk memahami bagaimana dua teori utama ini bisa ada di dunia yang sama, dan bagaimana mereka menjelaskan kenyataan yang sama," kata Knox lagi. "Di titik ini kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa kita sesungguhnya amat sangat beruntung bahwa matematika sukses menggambarkan alam semesta kita". "Atau bisa juga kita berpikir bahwa matematika menggambarkan sebagian saja dunia kita, bukan keseluruhannya," ujar Knox lagi. Atau bahwa untuk memahami dunia kita keseluruhannya merupakan sesuatu yang amat sangat kompleks. Perbedaan besar Namun seharusnya tak mengejutkan bahwa sulit untuk selalu membuat hukum matematika sesuai dengan fisika. Keduanya memang tak sama.
        Seperti kata Einstein,"Semakin dekat dengan kenyataan, semakin tak pasti hukum matematikanya, dan semakin pasti hukum matematikanya, semakin jauh mereka dari kenyataan". Hak atas foto Image caption Apakah matematika suatu kenyataan? Knox menjelaskan:"Matematika punya karakter khusus: sepenuhnya soal benar atau salah. Jika kita membuktikan sesuatu hal secara matematis, tak ada yang bisa menyangsikan hal itu." "Hukum fisika tak selalu seperti itu. Itu salah satu perbedaan besar antara keduanya." "Kita sering keliru. Misalnya hukum Newton yang indah dan elegan. Di beberapa kasus memang berlaku, tapi hukum ini bukan kebenaran sepenuhnya. Tak diragukan bahwa di masa depan hukum Einsten mungkin lebih bisa menggambarkan kenyataan," kata Knox yang merupakan filsuf bidang fisika ini.


Sumber:www.bbc.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi ke-2 Daya Matematika bersama Prof.Dr.Marsigit, M.A. : Meaningfull Learning

Pembelajaran Bermakna (Meaningfull Learning)        Dalam perkuliahan dengan Pak Marsigit, pada tanggal 18 Februari 2020 membahas tentang pembelajaran bermakna atau Meaningfull Learning. Pembelajaran bermakna berarti siswa memaknai apa yang ia pelajari. Konsep belajar bermakna identik dengan teori belajar David Ausubel.          Menurut Ausubel, ada dua jenis belajar yaitu belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajara bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar. Berbeda hal dengan belajar menghafal, dimana siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang dibaca tanpa makna.         Konsep atau teori pembelajaran yang bermakna adalah bahwa informasi yang dipelajari sepenuhnya dipahami dan sekarang dapat digunakan untuk membuat kon...

Tugas Mind Map Daya Matematika

ket: Mind Mananger Daya Matematika Daya Matematika memiliki standar proses, skill matematika, konten matematika, model pembelajaran matematika, kemampuan matematika, disposisi matematika, sikap matematika, serta mathematical thinking. Daya matematis adalah (NCTM ,1999) “Mathematical power includes the ability to explore, conjecture, and reason logically; to solve non-routine problems; to communicate about and through mathematics; and to connect ideas within mathematics and between mathematics and other intellectual activity”. (kemampuan untuk menghadapi permasalahan baik dalam matematika maupun kehidupan nyata). Daya matematika dalam mind manager saya bagi menjadi beberapa bagian, nyaitu: 1.        Standar Proses (Procces Standart) Tujuan yang ingin dicapai dari proses pembelajaran, proses standar meliputi, kemampuan pemecahan masalah kemampuan berargumentasi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan membuat koneksi (connection) dan ...