Metafisik/Metafisika
Secara
sejarah, filsafat berawal dari metafisika. Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah
alam semesta; bagaimanakah asal-usulnya; apa itu kenyataan; apa hakekat jiwa; apa itu tubuh;
bagaimana hubungan antara jiwa dan tubuh? adalah pertanyaan-pertanyaan pertama
yang menggelitik manusia yang kemudian mereka sendiri berusaha untuk
menjawabnya. Dari rasa ingin tahu tersebut, berbagai macam usaha dilakukan
untuk memperoleh jawabannya. Akhirnya, lahirlah berbagai macam jawaban yang
satu sama lain tidak hanya saling melengkapi, tetapi juga tidak jarang saling
bertentangan. Karena inilah, metafisika sering dihadapkan dengan epistemologi.
Metafisikan
dalam epistemologi terkait dengan “legalitas” ilmiah metafisika sebagai salah
satu capaian pengetahuan manusia. Berbagai pertanyaan kritis diajukan untuk
menggugat metafisika. Artinya, keberatan terhadap metafisika ini dikarenakan
konsep-konsep metafisika tidak bisa diverifikasi, tidak konkret, dan tidak
positif. Kata “meta” bagi orang Yunani
mempunyai arti “sesudah atau di belakang”. Kata metafisika dipakai sekali untuk
mengungkapkan isi pandangan mengenai, “hal-hal di belakang gejala fisik”.
Wilayah kajian metafisika, diadopsi
oleh seorang filsuf Jerman, Christian Wolff, pada abad ke- 18 adalah ontologi
di samping teologi metafisik, antropologi dan kosmologi. Ontologi
berkaitan dengan filsafat tentang yang ada (being); teologi berkaitan dengan
problematika filsafat ketuhanan; kosmologi berkaitan dengan filsafat alam; dan
psikologi berhubungan dengan filsafat manusia dengan problematikanya (mind).
Kattsoff membagi metafisika menjadi dua: ontologi dan kosmologi. Ontologi
berusaha untuk menemukan esensi terdalam dari yang ada, sedang kosmologi
berusaha untuk mengetahui ketertiban serta susunannya. Ontologi merupakan
istilah lain dari metafisika. Hal ini bisa dilihat dari definisi ontologi itu
sendiri. Ontologi berasal dari bahasa Latin: “ontos” (being atau ada) dan
“logos” (knowledge atau pengetahuan). Jadi, ontologi sama dengan metafisika,
yaitu cabang filsafat yang bersangkutan dengan pertanyaan mengenai hakekat yang ada yang terdalam atau
esensi terdalam dari yang ada. Oleh karenanya, ontologi sama dengan metafisika.
Dalam blog Pak Marsigit, (https://powermathematics.blogspot.com/2017/09/metafisik.html), dijelaskan juga metafisik. Semua kenyataan mempunyai metafisiknya masing-masing, maka semua pikiran perasaan, ibadah, doa, keyakinan, maksud, tujuan, ucapan, tulisan, dst. mempunyai metafisik masing-masing. Mengerti banyak maksud dari maksud-maksud, mengerti banyak maksud dari tulisan, ucapan dan kenyataan, itulah yang dimaksud orang berilmu. Jadi, sebenar-benarnya ilmu itu adalah metafisik.
Sebenar-benar
ilmu adalah metafisik. Mengetahui banyak maksud dari suatu perkara. Berpikir
metafisik berarti berpikir secara luas dari berbagai sudut pandang. Meta
berarti sebaliknya yang didengar atau dilihat. Misalnya saja orang melihat
bahwa daun berwarna hijau. Namun jika berpikir metafisiknya warna daun adalah
warna selain itu. misalnya saja berada pada kegelapan, maka daun bisa berubah
warna menjadi hitam. Ketika berada pada ruang yang dipenuhi lampu berwarna
merah, maka daun tersebut akan berubah warna merah. Warna daun bisa bermacam-macam.
Hal ini tentu bisa memperkaya pengetahuan dan bisa mengerti banyak hal. Namun
ini berbahaya jika sudah tergoda metafisiknya syaiton yang merasa mengerti
bayak hal sehingga menjadikannya sombong dan lupa diri. Jadi, berusaha
mengetahui banyak hal memang baik dilakukan namun tetap hati-hati jangan sampai
terkena godaan setan (yg jahat). (https://powermathematics.blogspot.com/2017/09/metafisik.html)


terimakasih kakak ketua Daniel Fernando Hutapea, saya klik ini..
BalasHapusSemoga dg saya klik blog nya jd yg teratas sebagai rasa terimakasih diberikan info kuliah trus menerus.. 😁
sama-sama mas
HapusAgen Slot Game Dan Tembak Ikan Online
BalasHapusBonus Welcome Deposite 50%
SLOT VAVA
MABAR99
GURU ARTIKEL
BONUS 50%
ARTIKEL VAVA SLOT GAMING
ARTIKEL SLOT INFO
ARTIKEL POKER MABARQQ
MAIN BARENG QQ
BANDAR CASINO
BCA